banner 300250
WISATA

Surau Tuo Kesatuan, Satu Lagi Situs Cagar Budaya Yang Telah Berusia Satu Abad Lebih

Sangbintang.com

Sergai | Sejarah berdirinya Surau Tuo, tidak terlepas dari sejarah kedatangan warga suku Minang ke Perbaungan yang dipelopori oleh kesultanan Serdang dimasa Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah (1866−1946) yang mengirim utusannya ke Sumatera Barat dalam misi mengajak seorang ahli khitan yang mashur karena obatnya yang terkenal bisa cepat menyembuhkan luka khitan. Ahli khitan itu bernama Marah Sutan suku Pili Dt Bandaharo Patapaian. Marah Sutan bersedia mengabdi di kesultanan Serdang dan diberi tempat tinggal didaerah lahan pertanian kampung Tanah Merah III , yang terletak disebelah utara Kampung Tanah Merah I dan II, disebelah barat berbatasan dengan kampung Lidah Tanah yang merupakan pemukimana suku Melayu, Kelak Tanah Merah III berubah nama menjadi Desa Kesatuan.
Karena lahan itu sangat luas, kesultanan Serdang menganjurkan kepada Nyik Marah Sutan untuk menjemput warga 7 Lurah Koto Rantang untuk menjadi petani di wilayah tersebut. Dari situlah dimulai gelombang kedatangan masyarakat warga 7 Lurah Koto Rantang Minang ke Tanah Merah III, termasuk diantaranya adalah ; Nyik Panji Alam, Nyik Siah, Nyik Maruhun Panjang, Nyik Panjang, Nyik Paduko Labiah , Nyik Imam dan Nyik Indun, Malin Bungsu, Saidin Taha (Nyik Baro), Nyik Bagindo Sutan, Sutan Jalan, Haji Samad, Nyik Bawai, Nyik Tuanku Mudo, Narujan, Intan, Abdullah, Arifin, Hamzah, T. Sati, Kari Juman, Nyik Malin Marajo, Saidi Sutan, Salim Thaib dll. Gelombang kedatangan warga suku minang berlangsung terus sampai setelah jaman kemerdekaan.
Tidak ada keterangan yang dapat dijadikan acuan mengenai alat transportasi untuk sampai ke Serdang. Karena bis baru ada pada tahun 1939. Ada yang mengatakan mereka naik kapal laut dari Teluk Bayur-Belawan. Ada yg mengatakan mereka berjalan kaki dengan rute berbeda-beda.
Didalam buku Sejarah Perantauan Warga VII Lurah ke Sumatera yang disusun oleh H.M. Nur Rizali SH, H. Adnan Jasim dan Tamar Jaya disebutkan Nenek Mali pernah bercerita bahwa beliau turut dalam rombongan penduduk dari Peninggiran Ateh melalui daerah Batak di Tapanuli, rombongan ini dihadang oleh orang Batak, mereka lari, tapi makcik beliau bernama Sarinai ditangkap para penghadang, anak Sarinai bernama Basir berhasil diselamatkan sampai ke Tanah Merah III, tapi tidak diketahui bagaimana nasib Sarinai.
Dari Tanah Merah III, sekitar tahun 1930 – 1942, para perantau menyebar lagi ke daerah Simpang Empat, Paya Nibung, Kampung Tengah Dolok Masihul, Serbelawan, Dolok Sinembah dan Kampung Padang Selayang.
Sejak warga minang mendiami Kampung Tanah Merah III hingga Penyerahan Administratif Pemerintahan Kesultanan Serdang untuk bergabung ke NKRI tanggal 4 Maret 1946, tercatat 5 orang yang di angkat Sultan menjadi Penghulu di Tanah Merah III yang kesemua berasal dari warga 7 Lurah Koto Rantang, yakni: Nyik Marah Sutan, Nyik Rambang, Nyik Ibrahim, Nyik Musa dan Nyik Abdullah.
Menurut Prof. Dr Hamka, kemanapun orang minang merantau, dari kampungnya sudah dibekali oleh jiwa dan semangat keagamaan dan kebangsaan menuju alam kemerdekaan. Sesampainya dirantau semangat itu semakin berkobar yang diikuti dengan beberapa aktivitas, dimanapun mereka berada, mereka selalu mendirikan Mesjid yang disebut Surau.disamping untuk tempat beribadah, surau ini dijadikan markas atau pusat perhimpunan untuk membahas bersama tentang rencana kegiatan pembangunan, pendidikan dll.
Begitu juga yang terjadi dengan warga minang pendatang di Perbaungan ini. Mereka sudah berpikir untuk masa yang akan datang untuk anak cucu keturunannya.
Berdirinya Surau Tuo dipelopori oleh Nyik Tuanku Bagindo (Nyik Gadang), beliau adalah Mamak (paman) kandung Nyik Ibrahim Dt Mudo suku Jambak Dt Tamansoho Sarik Laweh dengan bangunan surau dibuat bertiang dan berkolong, disebutkan bahwa bangunan didirikan bergonjong satu dengan tiga tingkat atap mencontohkan bangunan mesjid di minangkabau.

Adalah Nyik panjang beristrikan Nyik Jiah suku Koto Dt Bendahara Kali Sipisang, bersamasama dengan Marah Sutan dan lainnya membuka lahan pertanian, Nyik Panjang mempunyai anak bernama Sanun dan Sahidan. Sanun diperistri oleh Nyik Intan. Dari dokumen yg ada sekarang, bangunan dan kuburan yang diwakafkan atas nama Nyik Intan.
Surau dijadikan tempat pendidikan secara sederhana, guru pertama saat itu adalah Guru Saun berasal dari Sipisang, beliau adalah menantu Nyik Tuanku Bagindo, murid-muridnya terdiri dari anak muda suku minang dan suku melayu.
Pada Tahun 1930, seorang ulama datang dari Paya Kumbuh bernama H. Maamin, diangkat oleh Sultan serdang sebagai Penghulu I di kampung Bengkel. Beliau mendirikan Madrasah yang letaknya kira kira sekarang berada di areal SD Negeri. Sebagai guru pertama, beliau mendatangkan seorang ulama dari kampung beliau yaitu Tuan Guru Ramli Jamil, diantara murid-muridnya adalah Ahmad Tahir (anak dari Nyik Malin Marajo dan Nyik Kibah Jambak) yang kelak meneruskan perjuangan Guru Saun, dan menggunakan kolong rumahnya sebagai tempat belajar mengajar dan menggunakan nama Madrasah Tahiriyatul Islamiyah. Pada Tahun 1937, Ahmad Tahir berhasil mendirikan sekolah modern di atas tanah Nyik Datuk Mudo. Pada Tahun 1950, semua bentuk kegiatan belajar dan mengajar diserahkan kepada Muhammadiyah yg baru terbentuk.

Ahmad Tahir diangkat menjadi Imam Tentara, bertugas di Pematang Siantar dan terakhir bertugas di Kodam Brawijaya. Pada Tahun 1946 (saat terjadi revolusi sosial), Surau Tuo dijadikan tempat pengumpulan dan pengamanan bagi kaum agamawan dan pejuang 1945 suku minang yang dicari oleh PKI dengan dalih memusnahkan kaum feodal. Untuk keselamatan orang-orang minang ini, mereka dilindungi, dikawal dan disembunyikan di Surau Tuo oleh pemuda-pemuda Tanah Merah III.
Sebelum kemerdekaan 1945, para pemuda minang yang cinta kemerdekaan ikut ambil bagian dalam gerakan bawah tanah, bergabung dengan Partai Indonesia Raya yang bertujuan mencapai kemerdekaan.Tokoh-tokoh gerakan bawah tanah ini antara lain adalah; Saidi Sutan (Menantu Nyik Rambang), Sulaiman, Ismail, M.Zain, Sadin dll. Setelah proklamasi, mereka berhasil memobilisasi sekitar 900 pemuda Tanah Merah III dan sekitarnya untuk membentuk laskar militer, pelatih militer dikala itu adalah Bustami dan Madin, diantara pemuda pemuda ini ada yang diberangkatkan dalam pertempuran Medan Area. Ketika pasukan Medan Area mundur dan pertempuran sengit terjadi di Sei Ular, Pasukan itu ada yang sampai ke Tanah Merah III, penduduk menyiapkan dapur umum untuk pejuang kemerdekaan itu.
Pada ulang tahun kemerdekaan pertama (17-8-1846) penduduk Tanah Merah III mendirikan Tugu Perjuangan di halaman Madrasah Tahiriyatul Islamiyah, sayang sekali tugu itu sekarang tidak ada lagi, entah siapa yang meraibkannya.
Mungkin akan terlalu panjang bila membicarakan tentang masyarakat minang, apalagi harus merunut satu persatu silsilah generasi perantauan minang hingga sampai sekarang. Namun yang pasti saat ini kami yang di era generasi ke 3, dan 4 tidak ingin dan tidak akan melupakan jasa para pendahulu, itulah sebabnya mengapa kami bertekad bulat untuk memelihara dan melestarikan apa yang sudah diberikan dan diwariskan kepada kami. Dan kami yang sekarang ini, bergerak bukan atas nama kesukuan saja, aktivitas Surau Tuo tidak akan berjalan baik tanpa dukungan dan rasa peduli yang sangat tinggi dari putra-putra daerah yang bukan bersuku minang bahkan tidak berbau minang dalam darahnya tapi mempunyai rasa peduli dan perhatian yang begitu tinggi kepada Surau karena bernilai sejarah tinggi.
Mudah mudahan apa yang menjadi maksud dan tujuan kami tercapai, yakni melestarikan kembali Surau Tuo ini dan kami sangat berharap uluran tangan para kaum muslimin dan muslimat untuk memberikan bantuan untuk renovasi surau Tuo yang merupakan Situs Cagar Budaya ini, Amin . ucap Ashari kepala dusun Kesatuan serdang bedagai ini  [ Herry Z ]

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

banner 300250

ikuti kami

To Top