banner 300250
PROFIL

Denny S Wardhana, Ketua PHRI Sumut

Sangbintang.com
Usai terpilih di Musda PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Sumut yang berlangsung 10-11 April (Jumat dan Sabtu), Denny S Wardhana terpilih sebagai Ketua PHRI periode 2015-2020 mengalahkan Djamaluddin pemilik Grand Kanaya Hotel dan Lily Zainab pemilik Grand Karibia Hotel. Denny menyatakan akan lebih cepat mengupayakan sertifikasi kepada lembaga usaha dan karyawan pelaku pariwisata.
“Itu target kita. Saya memang menyiapkan delapan agenda sebagai misi ketua PHRI. Tapi itu dikerucutkan lagi menjadi tiga yaitu sertifikasi, promosi dan advokasi. Karena kawan-kawan hotel butuh itu,” jelasnya.
Perjalanan Karir
“SAYA pernah menyetir sendiri mobil L-300 mengantar tamu hotel pakai jas sampai di Polonia (bandara lama). Begitu tamunya turun dia kasi uang tip Rp 20.000. Padahal saya sebenarnya bukan driver. Tapi karena waktu itu kebetulan semua supir kita penuh dan tidak ada yang menghandle akhirnya saya ambilalih,” kata Denny S Wardhana mengenang masa-masanya dulu mulai berkarir di Garuda Plaza Hotel (GPH).
Sepertinya jika menyebut nama GPH Medan pasti identik dengan HM Arbie (alm) yang merintis dari awal. Setelah HM Arbie, nama yang kemudian kerap terdengar adalah H Rosihan Arbie dan Hendra Arbie. Di bawah kendali keduanyalah GPH bisa besar dan bersaing dengan banyaknya hotel di Medan.
Lalu siapa Denny S Wardhana sosok muda yang kini terus berinovasi dan mengoperasikan GPH? Bagi banyak orang, pebisnis atau pejabat pemerintah yang berhubungan dengan GPH pasti sudah tak asing dengan Denny S Wardhana.
Sebab dialah sekarang yang mengoperasikan GPH secara keseluruhan. Jika HM Arbie adalah generasi pertama, kemudian Rosihan dan Hendra adalah generasi kedua maka Denny S Wardhana adalah generasi ketiga. Peralihan operasional bisnis dari periode ke periode sepertinya berjalan mulus.
Sebab kini Rosihan sudah lebih banyak mengurus Rumah Sakit Permata Bunda dan Klinik Bunda Jl. SM Raja, maka Hendra Arbie kini lebih fokus pada peluang investasi GPH grup. Dimana ada peluang investasi maka Hendra Arbie-lah yang merintis. Itu sebabnya bendera GPH grup kini berkibar-kibar dengan banyak usaha.
Saat ini operasional GPH dihandel Denny S Wardhana. Lelaki kelahiran Mei 1973 ini sudah malang melintang di industri hotel. Saat berbincang dengan wartawan, dia seolah mengulang kembali kisahnya dari awal.
Sebenarnya Denny merintis karirnya dari bawah dan bukan pula langsung di GPH. Dia memulai karir 1998 bekerja sebagai sales di Garuda Citra Hotel (GCH) yang sebenarnya juga berada di bawah grup Garuda Plaza.
Di awal Denny benar-benar sebagai karyawan. “Saya diperlakukan sama dengan yang lain. Gaji juga sama seperti karyawan,” jelasnya. Sampai akhirnya dia pun masuk ke Garuda Plaza Hotel dua tahun kemudian.
Awalnya tahun 2000 dia dipanggil Hendra Arbie yang saat itu menjadi managing director untuk masuk di GPH. Kemudian Hendra yang mengomandoi GPH saat itu memberikan setumpuk berkas untuk dipelajari.
“Coba pelajari ini selama tiga bulan,” kata Denny menirukan Hendra waktu itu. Tantangan pun diterimanya. Denny belajar selama tiga bulan untuk memperbaiki manajemen GPH yang belum tertata maksimal.
Usai belajar selama tiga bulan Denny kemudian diposisikan sebagai room division manager membawahi front office dan housekeeping. Di situlah dia melakukan banyak perubahan pengelolaan yang mendapat tantangan dari karyawan.
Dia mulai menerapkan standar operasional prosedural dalam bekerja. Waktu itu memang tingkat hunian GPH tetap tinggi. Tapi terkait proses kerja, disiplin dan mekanisme tidak maksimal. “Orang seperti bekerja sesukanya. Semua berjalan begitu saja tanpa reward dan punishment. Akibatnya pelayanan kita seperti bukan bintang tiga,” jelasnya.
Walau banyak yang tak  suka namun programnya berjalan mulus. Perlahan-lahan dia benahi semua kekurangan pelayanan dan progress yang terjadi di GPH. Karena potensinya bisa diandalkan akhirnya dia pun dipercaya sebagai resident manager GPH sampai sekarang.
Tugasnya tidak lagi sebatas front office dan housekeeping. Tapi menyeluruh. Mulai dari accounting, marketing, sampai F&B GPH ada dibawahnya. Sekarang dialah yang mengurus semuanya bahkan termasuk complain tamu.
“Selama bekerja sudah tak terhitung berapa kali saya dimarahi tamu, dikomplain dan semua hal yang berhubungan dengan pelayanan,” jelasnya. Dengan berkarir selama 17 tahun itulah dia mengerti seluk beluk hotel dan pelayanannya.
Ke depan, kata ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumut ini, semua akan ada standar termasuk hotel. Apalagi ke depan seluruh hotel di Sumut dituntut memiliki sertifikasi yang batasnya 3 Oktober 2015. Sertifikasi itu wajib sebagai salah satu antisipasi sektor hotel menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Dia menyebutkan kewajiban sertifikasi itu tertuang dalam  Undang-undang nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Mulai 2014 tahun lalu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  sudah mewajibkan pekerja pariwisata mengikuti uji kompetensi dan Peraturan Pemerintah nomor 52 tahun 2012  tentang sertifikasi kompetensi usaha di bidang pariwisata, menyatakan pengusaha pariwisata wajib memperkerjakan tenaga kerja yang telah memiliki sertifikat kompetensi di bidang pariwisata, termasuk tenaga kerja asing.
Sanksi bagi hotel tak bersertifikat itu banyak seperti status bintang dicabut atau tenaga kerja asing menyerbu masuk ke sini. “Kan tidak elok rasanya melihat GPH pakai resepsionis dari Vietnam kemudian housekeeping saya pakai dari Myanmar. Kemana pekerja kita nanti kalau tak bersertifikasi,” kata Denny yang saat ini juga ketua Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Hotpari Sumut.(SBC/RLS)

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

banner 300250

ikuti kami

To Top